hearth

Selasa, 20 November 2012

Makalah Akuntansi Pada Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa



Kata Pengantar
Alhamdulillahirobbil’alamin,  segala  puji  dan  syukur  seraya  penyusun panjatkan ke hadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehinnga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Akuntansi dalam perusahaan dagang dan perusahaan jasa”.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah  Pengantar Akuntansi. Adapun  isi  dari  makalah  yaitu menjelaskan tentang definisi perusahaan dagang dan perusahaan jasa, perbedaan antara kedua perusahaan tersebut dan lain sebagainya yang akan dijelaskan dalam makalah ini. Penyusun  berterima  kasih  kepada  Ibu Soya Sobaya, SEI., MM. selaku  dosen  mata  kuliah  Pengantar Akuntansi yang  telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah ini.Seperti pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak”. Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini semata-mata karena keterbatasan kemampuan penyusun sendiri. Oleh karena itu,penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik yang positif dan membangun dari semua pihak agar makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.



Penulis









Daftar Isi

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………….2
Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………...3
BAB I Pendahuluan……………………………………………………………………………………….……4
1.      Latar Belakang………………………………………………………………………………………..4
2.      Ruang Lingkup Masalah…………………………………………………………………………..4
BAB II Pembahasan…………………………………………………………………………………………..…5
1.      Pengertian Perusahaan ……………………………………………………………………………5
a. Pengertian Perusahaan Dagang
………………………………………………………….…5
b. Pengertian Perusahaan Jasa……………………………………………………………….…5
2.      Ciri-Ciri Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa………………………………..……6
3.      Proses Akuntansi dalam Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa………..…7
4.      Perbedaan Pencatatan antara Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa…11

BAB III Penutup…………………………………………………………………………………………………….17
1.      Kesimpulan……………………………………………………………………………………………….17
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………………..…18



BAB I
Pendahuluan
1.      Latar Belakang Masalah

Pada saat ini, di Indonesia telah banyak dibangun perusahaan-perusahaan yang bergerak diberbagai bidang baik perusahaan dagang, perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur. Produk-produk yang dihasilkan oleh setiap perusahaanpun bermacam-macam, untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam hal akuntansi, pada masing-masing jenis perusahaan memiliki perbedaan. Makalah ini akan membahas tentang perusahaan dagang dan perusahaan jasa, baik dari segi proses akuntansi dan juga dari segi pencatatan pada masing-masing perusahaan.
Penulis berharap, dengan dibuatnya makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca umumnya dan penulis khusunya mengenai perusahaan dagang dan perusahaan jasa.

2.      Ruang Lingkup Masalah

Dalam makalah ini, masalah-masalah yang akan dibahas di antaranya:

1.      Apakah definisi dari perusahaan dagang dan perusahaan jasa?
2.      Apa sajakah ciri-ciri dari perusahaan dagang dan perusahaan jasa?
3.      Bagaimana akuntasi dalam perusahaan dagang dan perusahaan jasa?
4.      Apa sajakah perbedaan pencatatan antara perusahaan dagang dan perusahaan jasa?


BAB II
Pembahasan


1.      Pengertian

a.      Pengertian Perusahaan Dagang
                    Perusahaan dagang adalah perusahaan yang bentuk transaksinya yaitu membeli barang atau produk dan menjual kembali produk tersebut tanpa mengolah atau mengubah sifat produk bersangkutan. Seandainya melakukan pengolahan, hal tersebut terbatas pada pengemasan kembali, pemberian label, membungkus, memperkecil unit penjualan (misalnya pengecer gula pasir). Barang yang diperdagangkan dapat berupa hasil bumi atau produk hasil pengolahan (manufactured product). Secara umum dapat disebutkan kegiatan-kegiatan yag dilakukan oleh perusahaan dagang sebagai berikut :
ü  Pembelian (buying) : membeli berbagai macam produk dari berbagai pelosok.
ü  Pemasaran (selling) : mempromosi produk tersebut ke pembeli atau konsumen yang potensial.
ü  Assorting :  menyediakan berbagai macam  produk untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan selera konsumen atau pembeli potensial.
ü  Pendanaan (financing) : menyediakan fasilitas kredit untuk konsumen potensial agar dapat mendorong terjadinya transaksi.
ü  Penyimpanan (storage) : menyediakan dan melindungi produk untuk melayani konsumen secara lebih baik dan professional.
ü  Penyortiran (sorting) : membeli barang atau produk secara borongan kemudian memilih da memecah menjadi unit yang diinginkan oleh konsumen.
ü  Penyeleksian kualitas (grading) : membeli barang secara borongan kemudian menyeleksi kualitas dan membungkus serta memberi label sesuai kualitas.
ü  Transportasi : memindahkan barang secara fisik dari produsen ke konsumen akhir.
ü  Penyediaan informasi pasar : menyampaikan informasi pasar yang diperlukan oleh pembuat produk.
ü  Penanggungan risiko : menyerap risiko usaha khususnya yang berkaitan dengan penyimpanan dan keusangan barang.

b.      Pengertian Perusahaan Jasa
                    Perusahaan jasa adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan berbagai pelayanan yang memberi kenyamanan atau kenikamatan kepada masyarakat yang memerlukannya. Walaupun dalam menyediakan jasa diperlukan barang berwujud fisik, pemakai fasilitas fisik tidak membayar untuk barang fisik tersebut tetapi untuk jasa yang diberikan oleh barang fisik tersebut. Perusahaan jasa dapat bergerak dalam bidang usaha jasa berikut :
ü  Komunikasi : misalnya perusahaan telepon, stasiun televise swasta, wartel.
ü  Hiburan : misalnya bioskop, pusat bilyard, taman hiburan, kebun binatang.
ü  Tempat tinggal : misalnya hotel, motel, asrama, dan guest house.
ü  Keahlian perorangan : misalnya salon kecantikan, penatu, penjahit, studio foto.
ü  Pertanggungjawaban : misalnya perusahaan asuransi
ü  Reparasi dan pemeliharaan : misalnya bengkel mobil, cuci mobil, cleaning service.
ü  Hidangan : misalnya restoran dan catering service. Perusahaan ini termasuk perusahaan jasa karena yang sebenarnya dijual adalah kemudahan dan kenyamanan dan buka makanannya itu sendiri.
ü  Transportasi : misalnya perusahaan bis, perusahaan angkutan dan taksi.
ü  Persewaan : misalnya persewaan gedung pertemuan, system suara, pakaian upacara adat, alat-alat berat, gedung perkantotan, gudang, pusat pertokoan.
ü  Profesi : misalnya kator akuntan, klinik bersalin, biro perencana, kantor pengacara.
ü  Pelayanan khusus : misalnya biro penyelenggara seminar, agen biro tenaga kerja.
ü  Pelatihan dan keterampilan : misalnya kursus mengetik, kursus stir mobil.
ü  Keuangan dan pendanaan : misalnya bank dan perusahaan pembelisewaan atau sewa guna usaha (leasing company).

2.      Ciri-Ciri Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa

             Pada masing-masing perusahaan yang definisinya sudah dijelaskan di atas, terdapat ciri-ciri yang membedakan antara kedua jenis perusahaan tersebut.
a.      Ciri-ciri perusahaan dagang

1)      Melakukan transaksi pembelian barng dagang, baik secara tunai maupun kredit.
2)      Melakukan pembayaran utang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi dalam aktivitas perusahaan.
3)      Menerima pembayaran piutang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi dalam aktivitas perusahaan.
4)      Melakukan penyimpanan barang dagang selama belum dijual dan diserahkan kepada pembeli.



b.      Ciri-ciri perusahaan jasa

1)      Ketidakberwujudan (intangibility) : jasa tidak dalam bentuk fisik sehingga tidak dapat disimpan dan harus segera dikonsumsi pada saat diperoleh.
2)      Ketidakterpisahkan (inseparability) : konsumen tidak terlibat dalam jasa tersebut tetapi jasa diberikan dalam hal tertentu seperti acara televisi.
3)      Keanekaragaman (heterogeneity) : jenis dan kualitas layanan berbeda-beda.
4)      Keterlenyapan (perishability) : manfaat pada jasa akan habis denga cepat sehingga konsumsi jasa akan dilakukan konsumen secara berulang.


3.      Proses Akuntansi dalam Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa

Perusahaan Dagang
Siklus operasi pada perusahaan dagang adalah sebagai berikut :
1)      Dimulai ketika perusahaan membeli barang dagangan dari penjual.
2)      Perusahaan menjual persediaan barangnya kepada konsumen.
3)      Akhirnya perusahaan menerima kas dari konsumen.
        Proses akuntansi perusahaan dagang :
A.      Sistem Persediaan

Sistem persediaan barang perusahaan jasa terdiri dari dua macam :
·         Sistem Persediaan Perpetual
             Dalam sistem persediaan perpetual, perusahaan menyelenggarakan pencatatan yang detil atas biaya perolehan persediaan barang dagangan yang dibeli maupun dijual. Pencatatan yang berlangsung terus menerus (perpetually) ini menunjukkan persediaan yang seharusnya ada untuk setiap jenis persediaan. Dengan kata lain, dengan system ini persediaan secara terus menerus dimutahirkan (updated). Istem ini diyakini dapat menciptakan pengawasan yang lebih baik atas persediaan.
·         Sistem Persediaan Periodik
             Dalam suatu system persediaan periodic, perusahaan tidak menyelenggarakan pencatatan detil atas  persediaan yang dimilikinya sepanjag periode. Penentuan beban perolehan barang yang terjual hanya dilakukan pada setiap akhir periode. Itulah sebabnya system ini disebut system periodik. Pada akhir periode, perusahaa melakukan perhitungan fisik persediaan yang  ada dalam persediaan (yang belum terjual) untuk menentukan besarnya biaya perolehan persediaan yang ada pada akhir tahun (persediaan akhir).
B.      Pembelian Barang Dagangan
             Mencatat harga beli barang dagangan yang dibeli selama satu periode (sama dengan harga bersih). Akun persediaan (sebuah akun asset), digunakan hanya untuk mencatat pembelian persediaan barang dagangan, yaitu barang yang dibeli sebuah perusahaan dagang untuk dijual kembali kepada para konsumen.

C.      Potongan Pembelian
             Potongan pembelian adalah suatu potongan yang ditawarkan sebuah perusahaan kepada konsumennya jika pembayaran dilakukan lebih cepat.

D.     Retur dan Pengurangan Harga Pembelian
             Perusahaan pemasok pada umumnya memberi kesempatan pembeli untuk mengembalikan barang yang telah dibelinya karena barang rusak.  Hal seperti itu disebut retur pembelian. Dalam hal tertentu, pemasok menawarkan kepada pembeli untuk tidak mengembalikan barang yang tidak sesuai dengan pesanan tersebut, tetapi pemasok memberi pengurangan harga dari jumlah yang tercantum dalam faktur. Hal semacam itu disebut pengurangan harga pembelian. Bila situasi di atas terjadi, maka pembeli akan mencatat kedua hal tersebut yang akan mengurangi biaya perolehan persediaan dalam pembukusn si pembeli.

E.      Biaya Pengangkutan
             Dalam transaksi perdagangan barang, pengangkutan barang dari tempat penjual ke tempat pembeli kerap kali harus dilakukan dengan alat transportasi tertentu. Bermacam-macam alat transportasi tersedia untuk disewa. Siapa yang berkewajiban menanggung biaya transportasi, tergantung dengan kesepakatan di antara penjual dan pembeli yang biasanya dituangkan dalam suatu perjanjian penjualan. Pihak pengangkut akan mengajukan tagihan biaya angkut kepada penjual atau pembeli tergantung pada isi perjanjian tersebut.
             Ketentuan pengankutan bias berupa FUB shipping point atau FOB Destination. FOB adalah singkatan dari free ono board. Syarat FOB shipping point adalah bahwa penjual menanggung pengangkuan dan menyerahkan barang kepada pihak pengangkut dan pembeli dibebaskan dari beban yang timbul hingga tempat pihak pengangkut. Selanjutnya beban angkutan dari tempat pengangkut ke tempat pembeli menjadi tanggungan si pembeli.
Sebaliknya dalam syarat FOB destination, penjual mengantarkan barang ke tempat pembeli dengan biaya transportasi yang sepenuhnya menjadi tanggungan si penjual.
F.       Penjualan Barang Dagangan
              Aktivita utama sebuah perusahaan dagang adalah melakukan pembelian dan penjualan barang dagangan. Setelah selesai melakuka pembelian seperti dilukiskan di atas, tahap berikutnya adalah perusahaan melakukan penjualan barang dagangan. Perusahaan mencatat pendapatan penjualan seperti halnya perusahaan jasa, yaitu ketika pendapatan sudah diperoleh, sesuai dengan prinsip pengakuan pendapat. Biasanya perusahaan memperoleh pendapatan pada saat barang ditransfer dari penjual kepada pembeli. Pada saat itu transaksi penjualan telah selesai dan harga jual telah ditetapkan.
             Penjualan dapat dilakukan secara tunai atau secara kredit. Setiap transaksi penjualan harus didukung dengan transaksi tertulis. Apabila penjualan dilakukan secara tunai, maka catatan pada kertas yang diproses oleh Register Kas (cash register tapes) meruapakan bukti bahwa penjualan tunai telah terjadi. Bila penjualan dilakukan secara kredit, lembar asli faktur dikirimkan kepada pembeli, sedangkan tembusannya disimpan oleh penjual sebagai dasar untuk melakukan pencatatan transaksi di bagian akuntansi.
              Jumlah penghasilan yang diperoleh perusahaan dari penjualan barang dagangan disebut pendapatan penjualan. Setiap transaksi penjualan menimbulkan beban karena perusahaan harus menyerahkan barang milinya kepada pembeli. Beban ini disebut beban pokok penjualan, yaitu harga perolehan persediaan barang dagangan yang dijual kepada konsumen.
·         Penjualan Tunai
Penjualan yang dilakukan pedagang pengecer seringkali dilakukan secara tunai.
·         Penjualan Kredit

G.     Potongan Penjualan dan Retur & Pengurangan Harga
              Di atas telah dibahas, bahwa retur pembelian dan pengurangan harga pembelian mengurangi biaya perolehan barang yang dibeli (persediaan). Hal yang sama juga berlaku bila terjadi retur penjualan dan pengurangan harga serta potongan penjualan, maka jedua hal tersebut akan mengurangi pendapatan bersih dari penjualan. Akun retur dan & pengurangan harga penjualan dan akun potongan penjualan merupakan akun kontra (pengurang) terhadap pendapatan penjualan. Akun retur & pengurangan harga dan akun potongan penjualan memiliki saldo normal debit (berlawanan dengan akun penjualan yang bersaldo normal kredit).
              Biasanya perusahaan menyelenggarakan akun tersendiri untuk potongan penjualan da akun tersendiri pula untuk retur & pengurangan harga penjualan, sehingga mudah diketahui besarnya masing-masing. Pendapatan penjualan bersih ditetapkan sebagai
berikut : Pendapatan Penjualan Bersih = Pendapatan Penjualan Potongan Penjualan Retur & Pengurangan Harga Penjualan.
·         Retur Penjualan
·         Pengurangan Harga Penjualan
·         Potongan Penjualan

H.     Pendapatan Penjualan, Beban Pokok Penjualan dan Laba Kotor
             Penjualan bersih, beban pokok penjualan, dan laba kotor adalah tiga elemen yang menentukan profitabilitas. Pendapatan penjualan bersih dikurangi dengan beban pokok penjualan disebut laba kotor. Laba kotor dan laba bersih merupakan parameter keberhasilan perusahaan. Suatu tingkat laba kotor yang cukup tinggi diperlukan bagi sebuah perusahaan.

Perusahaan Jasa       
               Tahap pertama adalah tahap pengidentifikasian yaitu mengidentifikasi transaksi-transaksi yang mengakibatkan perubahan posisi keuangan perusahaan. Selanjutnya tahap kedua adalah tahap pencatatan yaitu mencatat semua bukti-bukti transaksi yang telah dianalisis ke dalam jurnal umum. Setelah selesai, tahap berikutnya adalah tahap penggolongan yaitu menggolongkan dan memposting pos-pos jurnal ke akun masing-masing dalam buku besar untuk menghitung jumlah/nilai dari tiap-tiap jenis akun.
                Pada akhir periode, memasuki tahap pengikhtisaran, saldo akun-akun dalam buku besar disusun dalam suatu daftar yang disebut neraca saldo guna memeriksa keseimbangan antara jumlah saldo debet dan saldo kredit akun-akun buku besar. Neraca saldo ini juga mengawali penyusunan neraca lajur. Saldo-saldo akun yang desusun dalam neraca saldo tadi masih bersifat sementara, karena belum menunjukkan saldo yang sesungguhnya. Agar saldo menunjukkan saldo yang sesungguhnya, maka perlu penyesuaian dengan berdasar pada informasi pada akhir periode. Dengan penyesuaian ini akan memberikan gambaran jumlah pendapatan dan beban selama satu periode dan saldo harta dan hutang yang sesungguhnya pada akhir periode.
Berdasarkan neraca saldo dan penyesuaian itu, diselesaikanlah neraca lajur yang merupakan konsep untuk membantu mempermudah penyusunan laporan keuangan. Neraca lajur ini memuat lajur: Neraca saldo, Penyesuaian, Ikhtisar Rugi Laba dan Neraca.
               Lajur ikhtisar rugi laba diisi dari neraca saldo disesuaikan, khusus akun nominal atau akun pendapatan dan beban. Setelah itu, lajur debet dan kredit dijumlahkan. Jika debet lebih besar daripada jumlah kredit, maka selisihnya disebut saldo rugi, dan sebaliknya. Saldo rugi bersifat mengurangi modal sedangkan saldo laba akan menambah modal. Dalam lajur neraca diisi dari angka neraca saldo disesuaikan, khusus akun harta, utang dan modal. Apabila lajur debet dan kredit dijumlahkan dan ditambah pindahan saldo rugi/ laba, maka jumlah debet dan kredit kolom neraca sama. Akun pendapatan, beban dan prive merupakan akun nominal atau sementara, sehingga harus dipindahkan kea kun modal melalui ikhtisar rugi laba ke dalam jurnal penutup, sehingga akun yang bersifat sementara tadi akan bersaldo nol. Setelah itu, untuk memeriksa keseimbangan jumlah saldo debet dan kredit akun-akun buku besar setelah penutupan, maka disusunlah neraca saldo setelah penutupan yang berisi akun-akun riil saja (harta, utang dan modal ).

                  Tahap akhir dari proses akuntansi adalah tahap pelaporan, yaitu menyusun laporan keuangan yang terdiri dari laporan Rugi Laba, laporan Perubahan modal dan Laporan Neraca, yang diambil berdasarkan neraca lajur. Pada awal periode perlu diperiksa akun-akun yang tidak disusun secara proses akuntansi berlangsung, tetapi muncul pada saat penyesuaian. Untuk menjaga konsistensi tekhnik pembukuan dan menghindari kemungkinan kesalahan, maka akun-akun ini perlu dihapuskan dan menghidupkan kembali akun yang dipakai dalam proses pencatatan. Proses ini dicatat dalam jurnal pembalik dengan cara mencatat balik penyesuaiannya.

4.      Perbedaan Pencatatan antara Perusahaan Dagang dan Perusahaan jasa

Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang

Secara umum bentuk siklus akuntansi perusahaan dagang adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pencatatan
    1.1 Transaksi/Bukti transaksi
    1.2 Mencatat transaksi ke dalam:
          - Jurnal Umum

            Adalah jurnal yang dapat digunakan untuk mencatat

          - Jurnal Khusus
             1. Jurnal penerimaan ka
s
                 Jurnal Penerimaan kas adalah jurnal yang disediakan khusus untuk mencatat transaksi penerimaan kas. Penerimaan kas pada sebuah perusahaan dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu :
·         Penerimaan Kas Dari Penjualan Tunai
Penerimaan kas dari penjualan biasanya ditangani oleh kasir dengan menggunakan peralatan kas register. Data dalam kas register dijumlahkan setiap hari, dan jumlahnya dicatat dengan mendebet akun kas dan mengkredit akun penjualan.
·         Penerimaan Kas Dari Debitur
·         Penerimaan Kas Lain-Lain
Sebagian besar kas adalah berasal dari penjualan tunai dan penerimaan pembayaran dari debitur. Akan tetapi walaupun tidak sering terjadi, terdapat sejumlah penerimaan kas yang berasal dari sumber lain, seperti misalnya penerimaan kas yang timbul karena perusahaan meminjam uang dari bank, atau dari hasil penjualan asset yag sudah tidak digunakan. Oleh karena itu dalam jurnal penerimaan kas perlu disediakan kolom khusus untuk mencatat penerimaan-penerimaan kas yang jarang terjadi, yang diberi judul lain-lain. Dalam kolom ini dicatat penerimaan dari berbagai sumber, selain penerimaan yang berasal dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari debitur. Kolom referensi dalam jurnal penerimaan kas digunakan untukbmenunjukkan kode akun yang dikredit di buku besar dari kolom lain-lain.

    2. Jurnal pengeluaran kas
                     Adalah jurnal yang khusus disediakan untuk mencatat transaksi-transaksi pengeluaran kas. Pengeluaran kas yang sering terjadi pada perusahaan dagang pada umumnya berupa pengeluaran untuk membayar utang usaha. Oleh karena itu salah satu kolom debet yang harus disediakan adalah kolom utang usaha. Bersamaan dengan pembayaran utang usaha biasanya perusahaan juga mendapat potongan pembelian yang juga harus disediakan kolom khusus untuk mencatatnya. Untuk mencatat pengeluaran kas yang jarang terjadi, pada sisi debet perlu disediakan kolom yang disebut kolom lain-lain. Pembukuan ke dalam buku besat dilakukan setiap akhir bulan namun sebelumnya semua kolom rupiah harus dijumlahkan terlebih dahulu. Sedangkan pembukuan ke dalam buku pembantu utang dilakukan secara harian. Segera setelah suatu ayat dibukukan ke buku pembantu utang, pada kolom penunjuk pembukuan (PP) dicantumkan tanda v, sebagai petunjuk bahwa ayat jurnal tersebut dibukukan ke buku pembantu.

   
             3. Jurnal pembelian
                    Adalah jurnal yang khusus digunakan untuk mencatat pembelian secara kredit. Jurnal pembelian yang sederhana hanya memiliki satu kolom jumlah rupiah. Akan tetapi jurnal pembelia dapat juga dirancang untuk mencatat pembelian perlengkapan (tidak hanya pembelia barang dagangan). Jurnal semacam ini memiliki beberapa kolom jumlah rupiah. Pada jurnal ini informasi tentang tanggal faktur dan termin pembelian dapat digunakan untuk menentukan kapan suatu utang harus dibayar.  Kolom kredit utang usaha digunakan untuk mencatat jumlah yang harus dikreditkan pada masing-masing kreditur. Setiap transaksi yang menyangkut yang menyangkut utang usaha dibukukan secara harian ke dalam buku pembantu utang usaha pada akun kreditur yang bersangkutan. Pada akhir bulan, angka penjumlahan setiap kolom dibukukan dengan mendebet akun pembelian dan akun perlengkapan dan mengkredit akun utang usaha.

            
     4. Jurnal Penjualan
                     Adalah jurnal jurnal yang khusus digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi penjualan yang dilakukan secara kredit. Penjualan secara tunai tidak dicatat dalam jurnal ini karena dalam transaksi penjualan tunai terjadi penerimaan kas, sehingga penjualan tunai biasanya dicatat dalam jurnal penerimaan kas. Pembukuan dalam jurnal penjualan ke buku besar seragam, yaitu berupa pendebetan ke dalam akun piutang usaha dan pengkreditan kea kun penjualan. Hal ini dikarenakan tidak adanya transaksi lain yang dicatat dalam jurnal ini selain transaks penjualan secara kredit. Atas dasar hal tersebut, maka format jurnal dan cara pengerjaan dari jurnal ke buku besar dapat disederhanakan. Penulisan ayat jurnal cukup dinyatakan dengan menuliskan tanggal transaksi, keterangan kepada siapa penjualan kredit dilakukan, nomor faktur, dan jumlah rupiahnya.

          - Buku Besar Pembantu
            
      1. Piutang usaha
                        Adalah  akun tambahan dalam buku besar untuk mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan piutang usaha. Transaksi yang berhubungan dengan piutang juga dicatat dalam sebuah buku catatan tambahan yang disebut buku pembantu piutang. Dalam buku ini disediakan satu akun pembantu untuk setiap debitur.

            
      2. Hutang usaha
                        Adalah buku pembantu yang berisi catatan utang kepada masing-masing kreditur. 

            
       3. Persediaan
                        Jenis persediaan yang dimiliki perusahaan dagang tergantung pada bidang usaha perusahaan yang bersangkutan. Dalam perusahaan dagang, perusahaan bias memiliki berbagai jenis barang.
    1.3 Pemindahbukuan ke Buku Besar

2. Tahap Pengiktisaran
    2.1 Membuat Neraca S
aldo
    2.2 Membuat Jurnal Penyesuaian
    2.3 Membuat
Neraca Lajur
           Neraca lajur sebuah perusahaan dagang mirip sekali dengan perusahaan neraca lajur pada perusahaan jasa. Akun baru yang utama adalah persediaan yang harus disesuaikan dengan hasil perhitungan fisik. Selain itu neraca lajur perusahaan dagang juga memuat beberapa akun baru lainnya, seperti penjualan, retue & pengurangan harga penjualan, potongan penjualan,, dan beban pokok penjualan. Prosedur pembuatan neraca lajur tidak berbeda dengan apa yang berlaku pada perusahaan jasa. Angka-angka yang tercantum dalam neraca saldo, ditambah atau dikurangi penyesuaian, menjadi angka saldo setelah disesuaikan. Selanjutnya kita pindahkan pendapatan dan beban ke kolom Laba-Rugi, dan asset, kewajiban, serta modal dipindahkan ke kolom neraca.

3. Tahap Pelaporan
    3.1 Perhitungan
Harga Pokok Penjualan
    3.2
Pembuatan Laporan Keuangan
    3.3 Neraca
           Neraca pada perusahaan dagang juga sama dengan perusahaan neraca pada perusahaan jasa, kecuali pada bagian asset lancar perusahaan dagang dicantumkan akun persediaan.
   
3.4 Jurnal penutup
       1. Laporan Laba-Rugi
            Laporan Laba-Rugi diawali dengan penjualan, beban pokok penjualan, dan laba kotor.
        2. Laporan Perubahan Modal

   
3.5 Menutup buku besar
          Empat tahapan yang dilakukan dalam membuat jurnal penutupan buku adalah :
            -Tahap 1 : pindahkan saldo akun pendapatan kea kun Rugi-Laba.
            -Tahap 2 : pindahkan saldo semua akun beban dan akun kontra kea kun Rugi-Laba.
            -Tahap 3 : akun Rugi-Laba sekarang berisi saldo laba (atau saldo rugi).
                               Pindahkan saldo akun Rugi-Laba kea kun modal.
            -Tahap 4 : pindahkan saldo akun prive (jika ada) kea kun modal.

   
3.6 Neraca saldo setelah penutupan
   
3.7 Jurnal Pembalik


Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa

Secara umum bentuk siklus akuntansi perusahaan jasa meliputi:
  1. Pembuatan bukti transaksi
             Adalah mengidentifikasi transaksi-transaksi yang mengakibatkan perubahan posisi keuangan perusahaan.
  1. Membuat jurnal/buku harian atas transaksi yang terjadi sesuai berdasarkan tanggal transaksi
Adalah semua transaksi yang terjadi kemudian memasukkannya ke dalam jurnal umum.
  1. Pemindahbukuan dari jurnal ke buku besar (pembuatan buku besar)
            Adalah penggolongan yaitu menggolongkan dan memposting pos-pos jurnal ke akun masing-masing dalam buku besar untuk menghitung jumlah/nilai dari tiap-tiap jenis akun.


  1. Menyusun Neraca Saldo
              Saldo akun-akun dalam buku besar disusun dalam suatu daftar yang disebut neraca saldo guna memeriksa keseimbangan antara jumlah saldo debet dan saldo kredit akun-akun buku besar.
  1. Pembuatan Jurnal Penyesuaian
              Agar saldo menunjukkan saldo yang sesungguhnya, maka perlu penyesuaian dengan berdasar pada informasi pada akhir periode. Dengan penyesuaian ini akan memberikan gambaran jumlah pendapatan dan beban selama satu periode dan saldo harta dan hutang yang sesungguhnya pada akhir periode.
  1. Menyusun Neraca Lajur

              Berdasarkan neraca saldo dan penyesuaian itu, diselesaikanlah neraca lajur yang merupakan konsep untuk membantu mempermudah penyusunan laporan keuangan. Neraca lajur ini memuat lajur: Neraca saldo, Penyesuaian, Ikhtisar Rugi Laba dan Neraca.Lajur ikhtisar rugi laba diisi dari neraca saldo disesuaikan, khusus akun nominal atau akun pendapatan dan beban

  1. Membuat jurnal penutup
Adalah jurnal yang dibuat untuk memindahkan saldo-saldo akun sementara (akun-akun nominal dan prive).
  1. Penutupan buku besar
             Pada akhir periode, angka-angka rupiah yang terdapat pada sisi debet dan sisi kredit semua akun buku besar dijumlahka, dan setelah jurnal penutup dibubukan maka akun-akun nominal akan seimbang. Jumlah-jumlah sisi debet dan sisi kredit yang telah seimbang kemudian diberi garis dobel yang menunjukkan bahwa penggunaan akun tersebut telah berakhir dan siap digunakan kembali dalam periode berikutnya.
  1. Neraca sisa/saldo setelah penutupan
              Setelah selesai penutupan buku, diadaka pengujian untuk memeriksa kebenaran dan keseimbangan jumlah debet dan jumlah kredit. Pengujian tersebut dilakukan dengan cara membuat neraca saldo setelah penutupan buku, yaitu daftar yang berisi saldo-saldo akun buku besar setelah perusahaan melakukan penutupan buku. Neraca saldo yang disusun setelah penutupan hanya berisi akun-akun riil. Pengujian dilakukan dengan membandingkan data yang tercantum dalam neraca saldo setelah penutupan buku dengan neraca yang disusun dari neraca lajur, dan akun serta jumlah saldo pada neraca  harus sama dengan akun dan jumlah saldo yang tercantum dalam neraca saldo setelah penutupan.


  1. Membuat jurnal penyesuaian kembali
             Setelah laporan keuangan disusun dan jurnal penutup dicatat serta dibukukan, pada awal tahun buku berikutnya perusahaan kadang-kadang merasa perlu untuk melakukan penyesuaian kembali atas beberapa jurnal penyesuaian yang telah dibuatnya pada akhir tahun yang lalu yang disebut jurnal penyesuaian kembali atau jurnal pembalikan, karena pendebetan dan pengkreditannya merupakan kebalikan dari jurnal penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Jurnal penyesuaian kembali berisi nama akun dan jumlah rupiah yang sama dengan jurnal penyesuaian yang bersangkutan, akan tetapi posisinya terbalik.






















BAB III
Penutup
1.      Kesimpulan
Dari uraian penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebgai berikut :
1)      A. Perusahaan dagang adalah perusahaan yang bentuk transaksinya yaitu membeli       barang atau produk dan menjual kembali produk tersebut tanpa mengolah atau mengubah sifat produk bersangkutan.
B. Perusahaan jasa adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan berbagai pelayanan yang memberi kenyamanan atau kenikamatan kepada masyarakat yang memerlukannya.
2)      Ciri-ciri perusahaan dagang dan perusahaan jasa
a.      Melakukan transaksi pembelian barng dagang, baik secara tunai maupun kredit.
b.      Melakukan pembayaran utang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi dalam aktivitas perusahaan.
c.       Menerima pembayaran piutang usaha yang terjadi akibat adanya berbagai transaksi dalam aktivitas perusahaan.
d.      Melakukan penyimpanan barang dagang selama belum dijual dan diserahkan kepada pembeli.
Ciri-ciri perusahaan jasa
a.      Ketidakberwujudan (intangibility) : jasa tidak dalam bentuk fisik sehingga tidak dapat disimpan dan harus segera dikonsumsi pada saat diperoleh.
b.      Ketidakterpisahkan (inseparability) : konsumen tidak terlibat dalam jasa tersebut tetapi jasa diberikan dalam hal tertentu seperti acara televisi.
c.       Keanekaragaman (heterogeneity) : jenis dan kualitas layanan berbeda-beda.
d.      Keterlenyapan (perishability) : manfaat pada jasa akan habis denga cepat sehingga konsumsi jasa akan dilakukan konsumen secara berulang.

                Serta dapat ditarik kesimpulan tentang adanya perbedaan pada proses akuntansi di kedua jenis perusahaan tersebut serta perbedaan pada pencatatan pada kedua jenis perusahaan terbut.






Daftar Pustaka
Jusup, AI. Haryono,2011.Dasar-Dasar Akuntansi Jilid 1.Yogyakarta:Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Suwardjono,1991.Akuntansi Pengantar.Yogyakarta:BPFE.